Showing posts with label Us. Show all posts
Showing posts with label Us. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

Culture Shock


Saya fighting dengan Matt kemaren * ihhh too much yaaa bilang fighting “. Ok jadi ceritanya begini nih, Matt dan saya punya rencana setelah menikah *amin* akan pindah ke US. Awalnya seperti semua cewek yang mau di bawa pergi dari keluarga, teman ( read comfort zone ) saya sedikit sedih, bingung dan agak-agak takut tapi..........sebenarnya saya juga lebih excited karena ini seperti hidup baru, petualangan baru dan yeahhhh jalan-jalan !!!.

Tentu saya masih sangat ingat 6 tahun lalu ketika dibawa pindah Opik, saya nangis tiap hari kalo telp dengan nyokap tapi setiap weekend saya selalu punya agenda untuk pergi ke tempat-tempat baru, saya homesick tapi saya dapat rumah baru, saya kangen semua teman main saya tapi saya dapat teman baru yang sekarang malah jadi sangat dekat, saya complaint dengan tempat baru tapi dulupun ketika saya di medan saya complaint setengah mati, saya harus jatuh bangun untuk bisa adaptasi dengan semua yang berubah di hidup saya waktu itu. 

Memang sih....medan dan Surabaya yahh gak jauh-jauh beda. 11-12, tapi tetap aja beda. Pagi-pagi waktu jalan dari kos ke kantor saya nemu papan Koran sehingga setiap pagi orang baca Koran sambil berdiri rame-rame dan itu lucu sekali seperti zaman perang, saya kenalan dengan orang-orang baru dari kupang, makasar dan banyak pulau lainnya di Indonesia yang selama ini gak terjamah saya, saya punya kesempatan untuk travelling ke Indonesia timur, datang ke pink beach, 29 kali ke bali dalam setahun karena dekatnya, mondar mandir ke yogya kayak setrikaan, punya hobby baru yang baru saya sadarin saya suka ketika di Surabaya, dapat keluarga baru, dapat penyakit baru juga di perut, ngerasain jadi anak kos yang harus nyuci dan setrika baju sendiri, pisah dari opik dan ngerasa terlunta-lunta sendirian di Surabaya, masuk rumah sakit sendirian dan dijemput mas bayu, ngerasain pacaran dengan orang jawa yang ngomongnya bener-bener medok (  bukan jawa deli ), nyoba kuliner baru.

Tentu saya juga ngerasa shock waktu baru pindah. Seperti jalanan yang lebih rapih dan saya gak bisa nyetir slonong boy, maki dalam bahasa jawa ( djanjuk !!!!! ), orang-orang yang lebih suka berbahasa jawa daripada bahasa Indonesia dengan saya, suasana kantor yang berbeda sekali, music daerah yang berbeda, orang-orang dengan kepribadian yang berbeda, saya masih inget kaget setengah mati ketika ngeliat BONEK ngeremes pantat cewek di pinggir jalan dan Opik bilang begini “ that’s Bonek Neng, so better stay away from them!! “, di Medan saya gak pernah lihat itu. Biarpun orangnya galak-galak tapi gak pernahhhhhhhhhh ngeremes pantat, makan orang iya hahaha.

Iya...iya....seperti yang saya beritahu di atas, saya nangis dong, hampir setiap hari saya nangis kejer kalo pulang kantor, kangen rumah dan berkali-kali pulang ke medan sampai tabungan saya kandas, belon lagi urusan domestic saya dan Opik yang bikin saya sebel dan nyesel banget pindah ke Surabaya. Saya marah trus dan kecewa sekali sampai akhirnya saya sampai pada satu titik yang namanya pasrah dan ikhlas * wow..wow...*.

Setelah saya mulai punya teman, punya tempat spa baru, punya internet di rumah, punya hati yang besar sekali untuk menerima kondisi saya yang baru, semuanya sih akhirnya normal-normal aja. Rindu rumah masih sih, tapi kalo rindu yahh pulang aja kan ada air asia ini, kalo saya sedih sekali ada temen dan lama-lama tinggal disini menyenangkan juga.

Culture shock saya pikir akan ada di mana aja, bukankah setiap hari kita akan selalu merasa frustasi dan gila melihat sesuatu yang berbeda dengan hidup kita biasanya. Saya 2 hari lalu shock lihat satu orang di kantor buang ingus didepan kita semua yang lagi makan, antara jijik dan geli tapi dia merasa itu wajar dan normal * yuck !! *

Bukan saya jadi silau karena akan pindah, wahhh gak sama sekali. Saya khawatir banyak sekali. Ada banyak sekali yang akan berbeda jika saya pindah. Contoh paling simple, ketika saya di Indonesia dan pergi ke Starbucks or Fast Food semacam KFC, Mc’D maka akan ada pelayan/waiters yang akan membereskan semua bekas makanan dan minuman, di US pasti saya harus beresin sendiri. DI Indo hampir semua rumah tangga punya pembokat, di US saya mungkin akan jadi pembokat. 

Pasti saya akan kaget-kaget amat sangat dahsyat ketika di sana dan bukan gak mungkin nangis-nangis minta pulang tapi.....kata my mom “we never know what the future hold for us”.

We’re Living In Venus Land


Yeay.......venus its women. Coba deh perhatikan isi mall, produk kecantikan atau apa ajalah, pasti atau menurut saya yah....isinya kebanyakan untuk perempuan. Paling simple sih jalan ke mall, dari ratusan toko yang ada paling yang untuk laki-laki hanya seuprit a.k.a dikit. 

Beberapa kali saya pergi belanja dengan temen pria atau pacar ( baca mantan pacar ) dan agendanya adalah shopping pasti barang-barang yang dibeli berdasarkan mood saya saat itu yang tentu saja di putuskan berdasarkan emosi dan perasaan. 

Kalau dulu gadget atau mungkin produk-produk yang di klaim dunianya laki-laki, sekarang coba deh perhatikan perintilannya atau aksesoris lebih banyak menggunakan warna untuk perempuan. Gak mungkin banget cowok pake pink ( mungkin sih hihi ). Waktu Matt beli kindle, saya perhatikan dari semua cover yang ditawarkan lebih banyak warna-warna yang cewek banget, sementara cowok yahh warna itu lagi itu lagi.....

Bapak saya yang dulunya suka warna biru, sekarang ikut-ikutan suka warna coklat karena emak saya suka warna itu. 

Kemaren sebelum natal saya dan Matt belanja sedikit, well Matt yang belanja saya ngikut. Di satu toko dia mulai milih-milih kemeja kotak-kotak ( baca kemeja cowboy ), ada beberapa warna sih, sepertinya dia pengen warna biru dan sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....................suka sekali warna merah. Entah ini Karena saya akhirnya seperti ngomong gini “ aku sih suka warna merah, tapi semuanya bagus koq!” trus saya jadi males terlibat dalam kancah perbelanjaan lagi dan mulai main dengan hape, akhirnya Matt beli warna merah ( emmm mungkin sebenarnya dia suka juga sih warna itu, tapi saya tetap merasa itu karena saya ). 

Jadi.....laki-laki....hati-hati loh, kalian hidup di venus land dan kami mayoritas loh J.

Misunderstandings…


While arguments and/or stressful conversations are in general not pleasant at any time for any reason, they are most frustrating when they involve misunderstandings. Given that Noni and I have plans to marry in August of this year and then move to the US in February of next year, I have been thinking a lot about the life that Noni and I will make for ourselves in the future. In terms of money, which is one of the most (if not the most) important things to consider, we will be fine. I am fully aware that we will not be the new rich couple on the block, but with the lecturer position that I have at Southern Illinois and/or the position that is available at Saint Louis University I know that will be able to live comfortably in the states until I get a full-time teaching position at another university. And yes, I must fully admit that for that first year we will likely not be able to travel to the many places that we had wanted (e.g., Italy), as it will be important to save our money for a trip back to Indonesia. But aside from that last note, we will be able to have a comfortable life in the United States.  

One of the other things that I had not thought much about is “culture shock” for Noni; however, this was one of the first things that my family members have recently started asking me about. It got me thinking that not only will Noni and I will be newly married, but we will also very quickly move to a completely foreign place for her. Well yesterday, I started thinking that maybe it would be a good idea to not go back to teaching at Southern Illinois University after my research is complete, but instead try to find work in Indonesia. This was honestly only thinking about starting our life together in a very familiar place for Noni, not in any way related to money. However, when I verbalized this idea, Noni interpreted my concern as a major monetary problem, and that we were in dire need of changing all of our life plans. The other major problem was that I was completely incapable of communicating to her that I did not want to change our plans due to a problem or more importantly that there is in fact no problem. It was as if we were talking right past each other about two completely different topics. All that I was trying to do was to think of a situation that would make her feel very safe and comfortable, with all of the changes that will be taking place in our lives. It’s times like these that I wished my Indonesian was far better than it is.  

In the end, I think that I cleared things up, but I still remain worried that I inadvertently made Noni terrified about her new future life with me. You must understand that was not my intention at all, and that I desperately want to marry her in August and move back to the states with her in February (2013). I seriously cannot think of something that I want more than to have her with me in the US, starting our future together. Most importantly, I want her to know that there is no problem in any way with our future plans in the US, and that I will try to help her feel as comfortable as possible in her new home.       

Indonesian Phone Service


Well, I officially have 2 phones here in Indonesia (Which is so typically Indonesian. Talk about emersion…), both with a separate phone card (i.e., phone provider). My first (and favorite) is my Blackberry that utilizes a phone card from the Telkomsel provider. I always said that I would not be caught dead with a Blackberry, but my Nokia was not making me happy, so I upgraded. As it turns out, I am currently obsessed with my Blackberry, and feel pretty ridiculous to admit that. The ‘fun’ thing about this phone and its provider is that if you call someone for an extended duration of time (say your girlfriend that lives on a completely different island for example); they begin to cut your phone conversations short. At first, they give you maybe 15-30 minutes after the first time they cut your phone call. Then, they being to cut all phone calls with shorter increments every time you call, until you are in some instances unable even call for but a few seconds. My second hand phone is a pretty bottom of the barrel Nokia that utilizes a phone card from the XL provider. I purchased this phone card, because of the problem just discussed with Telkomsel. The positive is that it is far cheaper to call with XL; however, interestingly the phone will periodically turn Noni’s voice into an echoing robot. These robot voice echo sessions can actually last a few minutes sometimes, and are incredibly annoying. So to recap, I have one phone that lets me call then continuously cuts me off from talking to Noni, or won’t let me call at all after a while, and then I have another phone that lets me call, then turns her voice into an inaudible echoing robot. Lets for good measure make a note that these are two of the best phone providers in Indonesia. With all that said, Noni and I are really working diligently on our patience…

Wednesday, February 15, 2012

Posting gabrukan


Beuhhh gak berasa udah tanggal 14 feb aja, dan semangkin malas nulis untuk blog, entah nulis untuk blog di Multiply atau di Blog Noni n Matt. Semuanya males, bahkan buka laptop aja malesnya minta ampun. Intinya saya jadi pemalas kelas wahid. Kalo weekend kadang-kadang saya hanya mau sendirian aja di kamar, entah baca buku, ngobrol dengan Matt atau hanya nonton tv yang itu lagi itu lagi acaranya.

Lalu ada apa aja di 2012 sampai hari ini ??
Emmmmm saya dan Matt punya rencana besar, tapi nanti aja ngobrolnya, mungkin di Maret yaJ
Liburan pertama 2012 dengan temen-temen deket saya ke Klaten, yang tulisannya udah saya posting koq.
Rencana ke Derawan di May 2012 dengan semua anak-anak kupang J, dan sudah beli ticket.
Rencana ke Raja Ampat dengan Matt, tapi sayang gak sih kalo kesana tapi gak bisa diving???

Saya udah gak jadi sekretaris bos saya lagi tapi sekarang di mata-matain trus dan hape selama jam kantor ditahan, sehingga mungkin 8-9 jam hidup saya seperti terisolasi, duh...semoga gak lama lagi ada disini.
Ayah saya di January kemaren masuk rumah sakit 12 jam karena asmanya kambuh dan saya baru diberitahu 2 hari kemudian, itupun ketauannya by accident karena nyokap pas ngobrol di telp keceplosan kayak biasanya. Herannya dia itu keceplosan selalu setelah lewat harinya.

Adek ipar saya Alhamdullilah sudah hamil muda, sekarang katanya sih 9 minggu. Ibu saya wanti-wanti gak boleh nanya-nanyain, beuhhhh siapa yang mau nanya-nanya, cuman pertanyaan menggelitik dari nyokap “ kamu bisa suka ponakannmu gak neng? “. Wah.....itu yang saya gak yakin bisa jawab sekarang hahahaha.
Saya dan Matt punya blog, alamatnya littlebylittle0405.blogspot.com, dan karena ini blog pertama Matt, kayaknya dia terlalu semangat dengan blog ini plus rajin sekali nulis hahaha.

O,ya karena musim hujan, belakangan saya gampang sekali kena flu, hampir tiap bulan, trus semenjak musim hujan, kamar saya bocor!!. Gak bocor sampai banjir-banjir sih, tapi bocor karena tempias gitu. Udah ngomong ke pak Nono yang jaga rumah untuk benerin, tapi koq minta duitnya ke aku sih?? Males bener. Udahlah biarkan aja bocor, enak juga dengerin air masuk pas tidur.

Trus-trus....ohhhh ini sih sebenarnya di bulan nov dan des 2011 kemaren, tp lupa pamer disini, tulisan saya masuk 2 majalah. Satu di majalah jalan-jalan dan 2 di majalah pesona wisata. Senengnya bukan kepalang. Waktu tau itu, berasa naik di atas langit.

Dan apa lagi yaaaaa...........yah....semuanya standard sih J.